Iklan Anda

Kamis, 23 Juni 2011

Naskah Kuno Museum Radya Pustaka Dijualbelikan

Naskah Babad Arung Binang, koleksi pribadi.
Naskah Babad Arung Binang, koleksi pribadi.

Naskah Babad Arung Binang, koleksi pribadi.

Naskah Babad Arung Binang, koleksi pribadi.

Naskah Babad Arung Binang, koleksi pribadi.

Naskah Babad Arung Binang, koleksi pribadi.
SOLO, KOMPAS.com--Puluhan naskah kuno koleksi museum tertua di Indoesia Radya Pustaka Solo diduga telah dijualbelikan.

Kepala Komite Museum Radya Pustaka Solo, Winarso Kalinggo kepada wartawan, di Solo, Jumat mengatakan, dugaan tersebut terungkap saat pihak museum melakukan pengecekan dokumen peminjaman ditemukan 29 naskah kuno dari berbagai judul telah keluar dari perpustakaan museum sejak 27 September 1977.

"Naskah-naskah kuno tersebut dalam pencatatan dokumen peminjaman  pernah ditawarkan kepada Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI) Jakrta untuk dijual oleh KRT Hardjonagoro atau Go Tik Swan (almarhum)," katanya.

Dalam dokumen peminjaman tersebut juga diketahui 29 naskah kuno itu dipinjam oleh KRT Hardjonagoro yang pernah menjabat sebagai Ketua Presidium Yayasan Radya Pustaka pengelola Museum Radya Pustaka Solo  dan saat ini telah meninggal dunia.

Menurut Kalinggo, naskah kuno yang pernah ditawarkan ke Fakultas Sastra UI tersebut antara lain naskah dengan judul Sri Radya Laksono, naskah kuno Jawa carikan, naskah kuno Bahasa Belanda, naskah kuno Bahasa Jawa dengan huruf cetak serta naskah kuno Bahasa Indonesia dan reng-rengan kamus Bahasa Jawa.
Sebanyak 29 naskah kuno yang pernah ditawarkan kepada Fakultas Satra UI, sampai sekarang juga belum diketahui keberadaannya.

"Naskah itu ditawarkan kepada Fakultas Sastra UI, jadi dibeli atau tidak kami juga tidak mengerti karena dalam catatannya juga tidak ada, tetapi yang jelas naskah itu sekarang tidak ada di museum ini", katanya.

Selain 29 naskah kuno, pihak museum juga menemukan catatan sebanyak 20 naskah kuno juga telah dipinjam oleh Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta (saat ini telah berganti nama Institut Seni Indonesia Surakarta) sejak 1991 dan hingga saat ini belum dikembalikan.

"Kami sudah mengecek ke ISI dan akan mengambil langkah supaya naskah-naskah kuno itu bisa dikembalikan lagi ke museum. Saat ini kami juga masih mencari data naskah kuno yang juga hilang dari dokumen yang ada," katanya.

Sebelumnya, pihak museum juga menemukan sebanyak 20 naskah kuno hilang dari museum yang diketahui saat melakukan pembersihan buku-buku kuno. Tetapi dari 20 naskah kuno yang hilang tersebut, ada tiga jilid Al Quran bertuliskan huruf Jawa diketahui dipinjam oleh Museum Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang. Sementara dua diantaranya yakni Centhini dan Primbon telah diketemukan.

Sementara itu, menurut Ketua Komisi IV DPRD Solo, Satryo Hadinagoro saat melakukan kunjungan kerja di museum tersebut menegaskan, hilangnya naskah-naskah kuno tersebut harus segera ditindaklanjuti dengan melaporkan kepada polisi.
"Yang terpenting sekarang bagaimana caranya naskah-naskah kuno tersebut bisa kembali ke museum. Kita kan tidak mau, Museum Radya Pustaka, yang merupakan museum tertua di Indoesia, menjadi museum replika karena barang-barangnya tiruan semua," katanya. 
Sumber :

0 komentar:

Posting Komentar

Sedang Membaca

free counters

Iklan Anda