Iklan Anda

Kamis, 11 Agustus 2011

ALQURAN KUNO BERUSIA 77 TAHUN DITEMUKAN DI MUSEUM RADYA PUSTAKA


Berbahasa Belanda, Ada Jejak Ahmadiyah di Sampulnya

Selama puluhan tahun, Alquran kuno baru ditemukan di Museum Radya Pustaka, Solo. Alquran tua itu, terindikasi ada jejak Ahmadiyah masuk Indonesia sudah lama, karena ada bukti di sampulnya.
 
-----------------------------------------------------------------------------

Pria paruh baya, berkemeja batik itu, membukakan sebuah kitab kuno di museum Radya Pustaka, Solo, Kamis (4/8) siang. Dengan hati-hati, Sandjata, pria yang menjabat Ketua Komite Museum Radya Pustaka itu membuka lembar demi lembar kitab itu agar tidak rusak.

Di dalamnya, terlihat dua tulisan dengan aksara asing. Satunya aksara berbahasa Belanda, di sampingnya berbahasa Arab. Kitab kuno itu ternyata, Alquran dengan terjemahan bahasa Belanda.

Ketika dibuka, Alquran berbahasa Belanda ini dibuat tahun 1934 dengan tulisan De Heilige Qoer-an. Koleksi Alquran kuno ini, hanya ada satu di museum Radya Pustaka dengan kode koleksi 666. Entah sejak kapan, Alquran kuno itu tersimpan di Museum Radya Pustaka, karena pihak pengelolanya sendiri tidak mengetahuinya.

Kondisi Alquran itu secara umum masih bagus, hanya beberapa halaman di dalamnya sudah terlepas. Warna kertasnya kuning agak kecokelatan. Ketua Komite Museum Radya Pustaka, Sandjata, tidak bisa menjelaskan secara rinci, kapan Alquran tua itu masuk ke museum dan siapa yang membawanya.

Karena, kitab suci umat muslim itu, baru ditemukan tahun 2009 lalu oleh mahasiswa Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) yang sedang menjalankan tugas Praktik Kuliah Lapangan (PKL) di museum. Penemuannya pun tidak sengaja, karena kitab suci berusia 77 tahun itu, awal ditemukan di gudang.

”Susah menjelaskan kapan kitab itu masuk ke sini. Mungkin saja kitab itu dibawa orang Belanda, karena bangunan museum ini dulunya bangunan Belanda,” kata Sandjata, kemarin.

Ada yang aneh, pada sampul bagian dalam pada Alquran kuno itu. Pada sampul dalam tertulis ”Hielige Qoer-an, van Maulwi Moehammad Ali MA LLB”. Yang mengejutkan, ada kata-kata yang menunjukkan jejak Ahmadiyah di halaman itu. Jejak itu terbaca, persis di bawah nama van Maulwi Moehammad Ali MA LLB. Tulisannya adalah ”Voorziter Ahmedijah Andjoeman-Isjaat-I-Islam, Lahore, Voor-Indie.”

Tidak jauh dari kata-kata yang menunjukkan jejak Ahmadiyah, ada lagi tulisan ”Uitgegeven Door: Het Hoofdcomite Qoer-Anfonds Onder de Auspicien Van de Ahamadijah Beweging Indonesia (Centrum Lahore) 1934.”


”Tahun 1934 itu kemungkinan tahun pembuatannya. Saya tidak tahu, karena tidak bisa bahasa Belanda,” ujarnya.

Alquran tua itu, berukuran kertas A4. Isinya sebenarnya sama dengan Alquran pada umumnya, yakni diawali dari Surat Al Fatihah dan diakhiri dengan Surat An Nas. Bedanya, Alquran pada umumnya dibaca dari belakang ke depan, sedangkan Alquran kalau terjemahan Belanda itu, justru dimulai dari depan. Atau dari kiri ke kanan.

Selain Alquran terjemahan Belanda, di Museum Radya Pustaka juga tersimpan Alquran yang ditulis dengan aksara Jawa Kuno. Penulis ulangnya bernama Suwondo pada tahun 1835 – 1905. Sedangkan naskah aslinya ditulis Bagus Ngarpa, seorang abdi dalem dan ulama Keraton Kasunanan Surakarta. ”Coba dicek saja yang pasti kalau di perpustakaan kita hanya tulis ulang. Soalnya dulu tidak ada mesin fotokopi jadinya ditulis ulang,” kata Sandjata.

Menurutnya, jika diruntut dari sejarahnya, Alquran itu mungkin ditulis ulang pada masa pemerintahan Paku Buwono IX. Alquran tersebut pernah dipinjam Masjid Agung Demak sejak tahun 2006. Namun sekarang sudah dikembalikan. ”Kalau penginlihat yang asli coba dicari di Keraton,” kata Sandjata.


Sumber : Harian Joglo Semar.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

siip bisa nambah wawasan pak..mampir ke website ku ya pak..alamate ada di facebook alumni PGRI pak ..ditunggu nongolnya

Posting Komentar

Sedang Membaca

free counters

Iklan Anda