Iklan Anda

Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Agustus 2011

ALQURAN KUNO BERUSIA 77 TAHUN DITEMUKAN DI MUSEUM RADYA PUSTAKA


Berbahasa Belanda, Ada Jejak Ahmadiyah di Sampulnya

Selama puluhan tahun, Alquran kuno baru ditemukan di Museum Radya Pustaka, Solo. Alquran tua itu, terindikasi ada jejak Ahmadiyah masuk Indonesia sudah lama, karena ada bukti di sampulnya.
 
-----------------------------------------------------------------------------

Pria paruh baya, berkemeja batik itu, membukakan sebuah kitab kuno di museum Radya Pustaka, Solo, Kamis (4/8) siang. Dengan hati-hati, Sandjata, pria yang menjabat Ketua Komite Museum Radya Pustaka itu membuka lembar demi lembar kitab itu agar tidak rusak.

Di dalamnya, terlihat dua tulisan dengan aksara asing. Satunya aksara berbahasa Belanda, di sampingnya berbahasa Arab. Kitab kuno itu ternyata, Alquran dengan terjemahan bahasa Belanda.

Ketika dibuka, Alquran berbahasa Belanda ini dibuat tahun 1934 dengan tulisan De Heilige Qoer-an. Koleksi Alquran kuno ini, hanya ada satu di museum Radya Pustaka dengan kode koleksi 666. Entah sejak kapan, Alquran kuno itu tersimpan di Museum Radya Pustaka, karena pihak pengelolanya sendiri tidak mengetahuinya.

Kondisi Alquran itu secara umum masih bagus, hanya beberapa halaman di dalamnya sudah terlepas. Warna kertasnya kuning agak kecokelatan. Ketua Komite Museum Radya Pustaka, Sandjata, tidak bisa menjelaskan secara rinci, kapan Alquran tua itu masuk ke museum dan siapa yang membawanya.

Karena, kitab suci umat muslim itu, baru ditemukan tahun 2009 lalu oleh mahasiswa Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) yang sedang menjalankan tugas Praktik Kuliah Lapangan (PKL) di museum. Penemuannya pun tidak sengaja, karena kitab suci berusia 77 tahun itu, awal ditemukan di gudang.

”Susah menjelaskan kapan kitab itu masuk ke sini. Mungkin saja kitab itu dibawa orang Belanda, karena bangunan museum ini dulunya bangunan Belanda,” kata Sandjata, kemarin.

Ada yang aneh, pada sampul bagian dalam pada Alquran kuno itu. Pada sampul dalam tertulis ”Hielige Qoer-an, van Maulwi Moehammad Ali MA LLB”. Yang mengejutkan, ada kata-kata yang menunjukkan jejak Ahmadiyah di halaman itu. Jejak itu terbaca, persis di bawah nama van Maulwi Moehammad Ali MA LLB. Tulisannya adalah ”Voorziter Ahmedijah Andjoeman-Isjaat-I-Islam, Lahore, Voor-Indie.”

Tidak jauh dari kata-kata yang menunjukkan jejak Ahmadiyah, ada lagi tulisan ”Uitgegeven Door: Het Hoofdcomite Qoer-Anfonds Onder de Auspicien Van de Ahamadijah Beweging Indonesia (Centrum Lahore) 1934.”


Kurang Dana, Ratusan Manuskrip di Museum Sribaduga Tak Terawat

Sebanyak seratus lebih naskah kuno yang dimiliki oleh Museum Sribaduga belum terawat dengan baik akibat kekurangan dana,  sejak diberlakukannya otonomi daerah. Ongkos ideal perawatan naskah kuno itu mencapai puluhan juta rupiah, untuk jenis naskah yang tidak terlalu tebal. Menurut Pamong Budaya Madya Pembinaan dan Pengelolaan Naskah Kuno Museum Sribaduga, Sri Mulyati saat ini Museum Sribaduga hanya bisa melakukan perawatan ala kadarnya. Dari seratus lebih naskah kuno yang perwatannya kurang itu, empat puluhan naskah bermaterikan tentang agama Islam yang ditulis dengan huruf Arab Pegon.

“Tapi pegon itu bahasanya bahasa daerah. Misalkan bahasanya bahasa Jawa, Sunda, Madura, bahasa apa dia menggunakan aksara arab disebut aksara arab pegon. Kalau jumlahnya itu diperkirakan kalau yang arab itu mungkin ada sekitar, secara kumulatif mungkin sebanyak dua puluh lima persen."

Pamong Budaya Madya Pembinaan dan Pengelolaan Naskah Kuno Museum Sribaduga, Sri Mulyati mengatakan saat ini untuk menjaga keberadaan koleksi naskah kuno yaitu dengan menyimpannya di ruangan bertemperatur khusus. Selain itu, juga melakukan digitalilasi materi naskah kuno.Dia menambahkan kurangnya ongkos pemeliharaan koleksi naskah kuno di Museum Sribaduga, menyebabkan sejumlah naskah dan barang seni rupa bersejarah terancam rusak.


Sumber : KBR68H.

NASKAH BERUSIA 400 TAHUN DITEMUKAN DI PAMEKASAN

Kitab Bahrul Lahut di Pesantren Pamekasan.
Naskah kuno dari kitab Bahrul Lahut karya ulama Indonesia, ditemukan di Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Kitab yang ditulis tangan itu ditemukan tim peneliti dari Balai Litbang Kantor Kementerian Agama Semarang di Pondok Pesantren Sumber Anyar, Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan.

“Kalau dilihat dari kertasnya, kitab ini diperkirakan ditulis sekira abad ke-17,” ungkap Umi Masfiah, salah seorang peneliti naskah kitab kuno di pesantren itu.

Kondisi kitab karya ulama asal Aceh itu sebagian sudah tidak utuh lagi dan banyak yang berlubang karena dimakan rayap. Ada sekira 80 eksemplar naskah kuno yang ada di Pesantren Sumber Anyar, semuanya ditulis dengan tangan.

“Kalau jenis kitabnya ada sekira 120, dalam satu bagian ada yang terdiri dari lebih dari satu kitab,” kata Ketua Pengurus Perpustakaan Sejarah Pesantren Sumber Anyar, Kholis.

Kitab Bahrul Lahut membahas tentang filsafat Ketuhanan di antara kitab dalam naskah-naskah kuno yang ada di perpustakaan itu. “Bahrul Lahut itu artinya samudera Ketuhanan,” terang Kholis.

Kitab ini sempat diklaim sebagai karya ulama Malaysia, karena menggunakan bahasa Melayu. Namun kitab ini sebenarnya buah karya ulama Indonesia asal Aceh.

Selain Bahrul Lahut juga ditemukan naskah kitab kuno karya intelektual muslim, Ibnu Arabi berjudul Tuhfatul Mursalah dan Kitabul Waqad atau ilmu astronomi.

Salah satu isi kitab astronomi yang berbahasa Arab ini menjelaskan tentang peredaran bumi, bulan, dan matahari.

Menurut koordinator tim peneliti Balai Litbang Kemenang Semarang Zainul Atfal penelitian naskah kuno ini dilakukan untuk mendalami khazanah ilmu keagamaan di Indonesia.

“Kami memilih pesantren ini sebagai lokasi penelitian karena untuk sementara, naskah kuno terbanyak berada di pesantren ini,” ucap Zainul.

Naskah kuno ditulis di kertas yang terbuat dari kulit kayu dan menggunakan tinta dari daun mimbo. Sebagian lainnya ada yang dibuat menggunakan kertas Eropa. Hal ini dimungkinkan karena naskah-naskah tersebut ditulis dan dicetak di Eropa pada masa itu.

Ini dibuktikan dengan adanya gambar transparan di tengah kertas yang menunjukkan kapan, di mana, serta menggunakan kertas apa naskah-naskah itu ditulis dan dicetak.





Sumber : Okezone.com

PERADABAN JAWA KUNO DI MUSEUM KAILASA

Ilustrasi  Candi di Kawasan  Dieng. Sumber Internet

Benda-benda religius memiliki daya tarik tersendiri bagi sebagian orang. Salah satu tempat benda religius adalah Museum Kailasa Dieng. Di museum ini Anda bisa melacak peradaban Hindu Jawa kuno pada abad ke-7 dan 8 masehi.


Terletak di Gedung Arca Senyawa dan merupakan milik Badan Konservasi Jawa Tengah di Dieng, kecamatan Batur, kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.


Di kawasan Dieng, Anda juga bisa melihat pemandangan yang indah dan merasakan udara dingin karena dataran tinggi Dieng tidak hanya terkenal dengan peradaban kunonya, tetapi juga pemandangannya yang indah dan alami.


Secara historis, Dieng adalah sebuah situs ritual untuk pengikut agama Hindu. Sampai dengan saat ini, 22 naskah Jawa kuno bercerita tentang Dieng sebagai pusat kegiatan keagamaan. Di sini, Anda juga bisa melihat candi yang berada di dekat Museum.


Ada yang mengatakan bahwa nama candi tersebut diambil dari nama-nama tokoh dalam cerita Mahabarata seperti Arjuna, Bima, kelompok Candi Setyaki, Gatot Kaca, Dwarawati, Sembadra, Kunti, dan Srikandi. Selain candi, Anda juga bisa menemukan patung-patung longgar dekat kompleks candi Dieng seperti Arca Nandi (banteng), simbol Siva dan Mahaguru.


Saat memasuki museum, Anda akan melihat patung-patung antik Dieng. Setelah itu, Anda bisa menaiki tangga ke ruang informasi di mana Anda bisa mendapatkan informasi sebanyak mungkin, seperti sejarah dataran tinggi Dieng dan candi-candinya.


Beberapa panel memberikan informasi tentang kehidupan penduduk setempat mulai dari menceritakan tentang gaya hidup dan pertanian mereka,  informasi tentang masjid lokal, mushola, seni, dan mitos anak bajang. Panel lain menyediakan informasi lebih lanjut tentang dataran tinggi Dieng sebagai pusat kegiatan ritual Hindu dan candi-candi sekitarnya. Dieng diambil dari kata "Di" yang berarti gunung, dan "Hyang" yang berarti Tuhan. Dengan demikian, Dieng berarti gunung tempat tinggal Dewa.


Museum Kailasa diambil dari sebuah nama prasasti yang berarti sebuah gunung yang suci. Museum ini diresmikan oleh Menteri Pariwisata, Jero Wacik, pada tahun 2008. Museum ini dibangun untuk memberikan informasi tentang dataran tinggi Dieng.



Sumber : http://travel.okezone.com

Senin, 25 Juli 2011

WASPADA, MALAYSIA INCAR BUDAYA KERINCI !

Ilustrasi Upacara Adat Perkawinan. Sumber Internnet

JAMBI, KOMPAS.com — Budayawan Jambi asal Kerinci, Nukman SS, mengatakan, kebudayaan dan sko (sistem matrilineal dalam upacara adat Kerinci) saat ini ibarat "gadis cantik" yang tengah diincar oleh asing, khususnya oleh Pemerintah Diraja Malaysia.

"Saya melihat ada gelagat tidak tulus dari berbagai kepedulian terhadap pemeliharaan Kebudayaan Kerinci yang dilakukan Pemerintah Diraja Malaysia belakangan ini. Boleh saja kita katakan mereka saat ini tengah mengincar kebudayaan dan sko Kerinci untuk diklaim," kata budayawan Jambi asal Kerinci, Nukman SS, saat dihubungi di Jambi.

Gelagat itu, tambah Nukman, sebenarnya sudah terbaca jauh-jauh hari ketika semenjak awal 1990-an, peneliti-peneliti dari Malaysia mulai berdatangan dan didatangkan ke Kerinci membawa misi riset budaya. Hingga saat ini, Kerinci masih menjadi obyek riset budaya yang dominan oleh para peneliti negeri jiran tersebut.

Gebrakan Awal Manassa Jatim Pamerkan Koleksi Naskah Kuno di Qatar

SURABAYA, LICom: Naskah kuno bukanlah benda mati. Melainkan, naskah kuno merupakan sumber penting sejarah untuk merekonstruksi pemahaman tentang masa lalu. Saat ini, kajian-kajian tentang naskah kuno sudah menjadi rutinitas di berbagai kampus dunia, seperti Universitas Oxford dan Universitas Cambridge, Inggris. Rencananya, Pemerintah Qatar akan menggelar pameran naskah kuno dari berbagai belahan dunia pada bulan Oktober 2011. Undangan pun sudah disebar, termasuk akan undangan memajang naskah-naskah kuno temuan di Jawa Timur.

Persiapan pun sudah dilakukan oleh Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Cabang Jawa Timur. Sejumlah naskah kuno yang berumur ratusan tahun sudah dipersiapkan untuk tampil dalam pameran Qatar nanti.

Pakar filologi (naskah kuno) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Amiq Ahyad PhD menyebutkan bahwa pihaknya sedang mendata berbagai naskah kuno untuk dipamerkan. ''Kami sudah menelusuri keberadaan naskah kuno di Jatim ini sejak tahun 2001. Kami menemukan berbagai naskah kuno itu di Malang, Tuban, Blitar, Ngawi, Ponorogo dan Bojonegoro,'' urai Sekretaris Manassa Jatim ini.

Saat ini, sudah terdata sekitar 250 naskah kuno asal Jatim yang siap dipamerkan di Doha, Qatar. Seluruh naskah kuno itu sudah terdigitalisasi, meski nanti yang akan dipamerkan adalah naskah kuno asli. Kondisi naskah kuno itu sudah agak lapuk dan rentan karena bahan yang sudah lama tersimpan.

''Kami harus hati-hati jika hendak membuka naskah-naskah kuno itu. Bahkan untuk merawatnya juga ekstra hati-hati. Tidak sembarang orang bisa melakukan perawatan maksimal pada naskah kuno itu, ada ilmu tersendiri,'' ungkap dia.

Disinggung peran pemerintah untuk perawatan naskah-naskah kuno tersebut, peraih gelar doktor dari Universitas Leiden ini menjelaskan bahwa perawatan itu umumnya dilakukan mandiri. Anggaran pemerintah biasanya ditujukan kepada perawatan museum, sedangkan untuk naskah kuno lebih banyak dilakukan  perawatan secara mandiri.

Sumber : rud http://lensaindonesia.com/

TEMBANG MERAPI MASA LALU

Letusan Gunung Merapi hampir serupa kejadiannya dengan letusan yang terjadi tahun 1822. Babad Ngayogyakarta mengisahkannya dalam keindahan tembang sinom. Diceritakan , letusan Merapi selama tiga bulan diikuti letusan di Gunung Bromo, Kelud, Slamet, dan Guntur.

Salelebete tigang warsa, wusnya murup Ardi Mrapi. Tumunten ing Ardi Brama, Redi Kelut genti muni, tri Gunung Slamet muni, kang sekawan Redi Guntur. Pating jeglug swaranya. Punika kang mertandhani, badhe hoyag wong sanagri Pulo Jawa…”

Naskah kuno Babad Ngayogyakarta mencatat, letusan Gunung Merapi itu pada 30 Juni 1822. Letusan Gunung Merapi terjadi sebelum pecahnya Perang Diponegoro (1825-1830). Babad Ngayogyakarta menyebut, letusan itu tanda akan terjadi kerusakan negara yang diikuti perang besar di Yogyakarta.

Letusan kala itu dirasakan penduduk Pulau Jawa karena kerasnya suara letusan dan panasnya lelehan lava. Kisah letusan Gunung Merapi tercatat dalam tiga bait naskah Babad Ngayogyakarta koleksi Museum Sonobudoyo, yang saat ini diteliti peneliti di Perpustakaan Pura Pakualaman.

Rabu, 20 Juli 2011

TIGA MANUSKRIP KUNO DIUSULKAN SEBAGAI MEMORI DUNIA

Ilustrasi Naskah La Galigo. Sumber : Internet

Jakarta - Tiga manuskrip kuno Indonesia diusulkan sebagai Memori Dunia atau Memory of The World. Peninggalan tertulis masa lalu yang telah masuk nominasi UNESCO tahun ini yaitu Babad Dipanagara atau Autobiographical Chronicle of Prince Dipanagara (1785-1855), La Galigo, dan Mak Yong Documentation.

 Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh menyampaikan, Indonesia memiliki warisan-warisan baik yang bersifat benda maupun nonbenda. Salah satu tugas UNESCO, kata Mendiknas, adalah mengenali warisan-warisan budaya tersebut.

"Kemdiknas bersama-sama dengan kementerian terkait mempunyai tanggung jawab untuk mengenalkan warisan-warisan budaya kita supaya mendapatkan pengakuan dari lembaga internasional," katanya usai menerima serfitikat Angklung Indonesia sebagai Warisan Budaya Nonbenda dari UNESCO, yang diberikan oleh mantan Duta Besar RI untuk UNESCO Tresna Dermawan Kunaefi di Kemdiknas, Jakarta, Rabu (19/1/2011) sebagaimana tertuang dalam siaran pers Kemendiknas.

Hadir pada acara Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, dan Menristek Suharna Surapranata.

Mendiknas selaku Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO menyampaikan, Babad Dipanagara diusulkan sebagai Memori Dunia bukan sekadar mengisahkan Diponegoro sebagai seorang pangeran atau pejuang, tetapi atas filosofi-filosofi kehidupan dan pemerintahan yang dituangkan dalam naskah tersebut. "Ini salah satu yang ingin kita usulkan," ujarnya.

Selasa, 19 Juli 2011

NASKAH KUNO DI MUSEUM KENDARI

KENDARI, KOMPAS.com--Sejumlah naskah kuno yang masih tersimpan di Museum Negeri Slawesi Tenggara perlu mendapat perhatian dan dilestariakn agar tetap aman, terjaga keasliannya dari benda lain yang bisa merusaknya.

"Kalau perlu, naskah-naskah kuno agar tetap terawat dan terjaga, perlu dilakukan kerja sama dengan lembaga pemerintah yang mengelola dan merawat benda-benda bersejarah di Jakarta," kata Susianti, Staf Direktorat Museum Pusat Kementerian Kebudayaan dan Parawisata RI di Kendari, Sabtu.

Pameran Temporer menyangkut identitas lokal daerah di Kota Kendari itu dibuka Asisten II Sekwilda Provinsi Sultra, Zuhuri Mahmud mewakili Gubernur Sultra dan didampingi Kadis Kebudayaan dan Parawisata Sultra, H Satar.

Menurut Susianti, dengan kondisi benda-benda bersejarah di museum Kendari yang seakan-akan tidak tersentuh dengan biaya perawatan, maka sebaiknya diserahkan atau melakukan kerjasama dengan pemerintah pusat untuk membiayainya.

RADYAPUSTAKA SELAMATKAN 164 NASKAH KUNO

Ilustrasi Naskah Kuno. Sumber : internet.

SOLO, KOMPAS.com — Sebanyak 164 naskah kuno carikan (tulisan tangan) yang kondisinya sudah memprihatinkan koleksi Museum Radyapustaka Solo diselamatkan dengan cara digitalisasi dan sebagian dikonservasi dan penjilidan ulang.

"Ya, kami beserta rombongan datang ke sini tujuannya tidak lain untuk menyelamatkan naskah-naskah kuno ini," kata Kasubdid Micro Film PNRI Muhammad Kodir di sela-sela acara konservasi naskah kuno tersebut di Museum Radyapustaka.

Kegiatan itu dilakukan museum itu bersama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) dalam memperingati 120 tahun Museum Radyapustaka.

Radyapustaka, yang merupakan museum tertua di Indonesia itu, memiliki koleksi naskah-naskah kuno dan kondisinya pada umumnya sudah memprihatinkan. 

"Untuk itu yang kami digitalisasi adalah naskah yang sudah rusak parah, memiliki nilai informasi tinggi, banyak dicari masyarakat, dan ini yang kami utamakan," kata Muhammad Kodir. 

Menyinggung masalah biaya digitalisasi dan konservasi, Muhammad Kodir mengatakan bahwa untuk sementara, itu belum bisa dikatakan karena pekerjaan sedang dimulai.

"Biaya digitalisasi ini tergantung kondisi naskah itu sendiri, mungkin kalau kerusakannya sudah parah, ya pasti akan lebih mahal," katanya.

Sumber : Kompas.com

Sabtu, 16 Juli 2011

NASKAH NASKAH YANG TERLUPAKAN

Ilustrasi Bale Kuno Di Bali. Sumber : Internet

Begitu melewati hutan-hutan cemara yang sunyi, masuklah kami ke wilayah Desa Kendakan, desa di lereng Merbabu yang juga seperti desa-desa di pegunungan lain. Jalanan batu rapi dengan rumput di sela-selanya sehingga tidak licin bila hujan. Udara segar, dan sesekali tercium bau asap lisong. 

Sore itu, kami mencari seorang dalang bernama Sumitro. Bertanya-tanya dari kaki sampai lereng gunung, hampir semua warga kenal dan dapat menunjukkan rumahnya. Rumah yang amat sederhana. Kaca jendelanya buram, penuh tempelan stiker para pendaki gunung. 

10.000 LONTAR DIDIGITALISASI

Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Kebudayaan menerima tawaran digitalisasi lontar sebagai aset budaya dengan lembaga donor Internet Archive Foundation dari Amerika Serikat. Semua biaya, termasuk pembuatan situs web lontar tersebut, ditanggung lembaga itu. Sekitar 10.000 lembar lontar bakal didigitalisasi selama satu tahun.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Ketut Suastika membantah anggapan bahwa penerimaan kerja sama itu wujud ketidakberdayaan pemerintah daerah membiayai sendiri digitalisasi lontar-lontar tersebut. ”Buktinya, kami masih menganggarkan sekitar Rp 160 miliar untuk pengembangan budaya Bali. Hanya saja, kami mengakui belum memberikan anggaran khusus untuk pengembangan lontar,” katanya, Kamis (20/1).

Ia menambahkan, pihaknya tidak khawatir soal pemasukan lontar-lontar Bali ini dalam situs web atas nama lembaga Amerika tersebut. (AYS)

Sumber : nasional.kompas.com

Tulisan di Lontar Akan Didigitalisasi

Ilustrasi Lontar Kuno. Sumber : Internet.

DENPASAR, KOMPAS. com--Dinas Kebudayaan Provinsi Bali akan melakukan proses digitalisasi terhadap karya-karya tulis dalam aksara bali yang terdapat dalam sejumlah lontar.

"Digitalisasi yang dimaksud adalah memasukan tulisan aksara bali kuno tersebut melalui proses komputerisasi dan kemudian akan dibuatkan website tersendiri yang sudah diberikan kode tertentu," kata Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Ketut Suastika di Denpasar, Kamis.

Ia mengatakan, suatu saat nanti, tulisan dalam lontar tersebut bisa diakses oleh para pengguna dunia maya di seluruh dunia.

Koleksi Lontar Museum Radya Pustaka Terancam Rusak

Ilustrasi Naskah Lontar. Sumber : Internet.

SOLO, KOMPAS - Museum Radya Pustaka, Solo membutuhkan bantuan untuk mengonservasi naskah kuno dari daun lontar yang kondisinya terancam rusak. Ketua Komite Museum Radya Pustaka Winarso Kalingga, Jumat (7/8), mengungkapkan adanya koleksi dua naskah kuno dari daun lontar yang selama ini belum diketahui publik. Kedua naskah ini ditemukan di gudang museum yang masih dipenuhi koleksi yang belum masuk daftar inventarisasi.
Petugas Perpustakaan Museum Radya Pustaka Kurnia Heniwati mengungkapkan, pihaknya kesulitan untuk melakukan konservasi kedua naskah lontar. Namun atas masukan dan panduan konsultatif dari Universitas Udayana, Bali, pihaknya berencana melakukan konservasi secara mandiri. 

Sumber : regional.kompas.com

Jumat, 24 Juni 2011

Naskah Kuno Melayu Diincar Malaysia

Naskah Lontar

Salah satu warisan kebudayaan nenek moyang kita yang bernilai cukup penting adalah naskah kuno (manuskrip). Di seluruh Indonesia diketahui banyak terdapat naskah kuno yang ditulis dalam berbagai aksara dan bahasa. Sebagian besar naskah masih tersimpan atau dimiliki masyarakat awam. Biasanya kepemilikan naskah bersifat turun-temurun. Sebagian lain terdapat di lembaga-lembaga pusat dan daerah, seperti Perpustakaan Nasional, perpustakaan daerah, dan lembaga-lembaga adat.


Namun disayangkan, pemeliharaan atau perawatan naskah-naskah tersebut kurang diperhatikan. Akibatnya, banyak naskah kuno yang bernilai sejarah, menjadi rusak atau kotor. Bahkan, cenderung tidak bisa dibaca lagi. Tentu saja hal demikian amat menurunkan kualitas naskah sehingga kandungan isinya menjadi berkurang.
Naskah kuno umumnya tidak mampu bertahan lama menghadapi zaman. Ini karena naskah umumnya ditulis pada bahan yang tergolong rapuh, seperti daun tal (lontar), daun nipah, bambu, kulit hewan, dan daluwang (kertas).

Kategori naskah



Dari kajian filologi diketahui naskah-naskah kuno Indonesia terbagi atas 14 kategori, yaitu (1) naskah keagamaan, (2) naskah kebahasaan, (3) naskah filsafat dan folklore, (4) naskah mistik rahasia, (5) naskah mengenai ajaran moral, (6) naskah mengenai peraturan dan pengalaman hukum, (7) naskah mengenai silsilah raja-raja, (8) naskah mengenai bangunan dan arsitektur, (9) naskah mengenai obat-obatan, (10) naskah mengenai arti perbintangan, (11) naskah mengenai ramalan, (12) naskah susastra, (13) naskah bersifat sejarah, dan (14) naskah mengenai perhitungan waktu (Trigangga, 2000).

Sebagai sumber tertulis dari zaman lampau, seharusnya naskah merupakan sumber sejarah yang patut kita diperhatikan. Memang, kekurangan utama naskah dibandingkan sumber tertulis lainnya seperti prasasti adalah naskah jarang menyebutkan nama pengarang dan tahun penulisannya. Yang tertera biasanya nama penyalin dan tahun penyalinannya. Namun sebenarnya naskah mampu mengungkapkan masalah-masalah di luar politik, seperti kebudayaan dan kesehatan.

Diperkirakan di seluruh Indonesia terdapat belasan ribu naskah kuno yang ditulis dalam berbagai bahasa daerah. Kendalanya adalah kita kekurangan pakar yang mampu menangani naskah. Dengan demikian kajian historiografi atas naskah-naskah kuno tersebut masih sangat sedikit. Tidak dimungkiri, banyak masyarakat awam enggan bergelut dengan naskah karena prospeknya kurang menjanjikan. Hambatan lain adalah masih belum adanya buku-buku pegangan tentang naskah kuno.

Naskah dari kulit kayu

Saat ini salah satu instansi yang paling banyak mengoleksi naskah kuno adalah Perpustakaan Nasional Jakarta. Lebih dari 10.000 naskah kuno ada di sana. Namun di sini baru sekitar lima persen naskah yang mampu dialihaksarakan dan diterjemahkan. Masalah utamanya adalah kelangkaan tenaga filolog.

Selama ini memang ilmu filologi dipandang tidak bergengsi. Penghasilan sebagai pakar filologi pun dinilai sangat kecil. Jangan heran kalau sampai kini tenaga penerjemah aksara-aksara kuno masih bisa dihitung jari tangan. Itu pun semakin tahun semakin langka karena satu per satu dari mereka mulai tua bahkan meninggal.

Keluhan serupa pernah datang dari sejumlah museum di Jawa Barat yang banyak mengoleksi naskah Sunda. Kini tenaga penerjemah naskah Sunda kuno hanya tersisa dua orang. Padahal, naskah-naskah yang perlu ditangani masih berjumlah ratusan. Sepeninggal Saleh Danasasmita, Edi S. Ekadjati, Atja, dan Ayatrohaedi memang boleh dikatakan tidak ada lagi generasi muda yang menekuni dunia filologi Sunda.

Konservasi



Tidak dimungkiri kalau sebagian terbesar naskah kuno justru masih berada di tangan warga masyarakat, seperti di kraton, tetua adat, dan keluarga. Dikhawatirkan, naskah-naskah tersebut akan rusak tergerus waktu karena ketidaktahuan masyarakat akan cara-cara perawatan.

Beberapa tahun lalu, berbagai koleksi naskah kuno di kraton-kraton Cirebon, pernah rusak dan hancur digigiti serangga, terutama ngengat. Sebagian lagi lembab karena naskah-naskah tersebut hanya disimpan di dalam peti kayu dan kopor pakaian. Ironisnya, banyak warga masih menganggap naskah kuno itu adalah barang keramat sehingga tabu untuk diperlihatkan kepada masyarakat di luar kraton atau kerabatnya.

Tentu saja prinsip-prinsip konservasi naskah belum dipahami benar oleh sebagian besar pemilik naskah. Padahal sebagai negara beriklim tropis, bahan-bahan naskah mudah rapuh dalam cuaca normal. Idealnya, barang-barang tersebut harus disimpan dalam suhu 18 derajat Celcius.

Naskah Babad Arung Binang dalam kondisi rusak (koleksi pribadi)

Secara umum pengguna naskah kuno dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian. Kelompok terbesar adalah para peneliti, penyimpan, dan penata naskah. Karena profesinya, maka mereka memerlakukan naskah dalam konteks pengembangan ilmu pengetahuan.

Kelompok kedua adalah perawat pusaka dan pencari petunjuk. Mereka melihat naskah sebagai benda suci.
Kelompok ketiga adalah pembuat (dari pengarang hingga penyalin) naskah, yang dapat mempunyai berbagai motivasi, seperti komersial dan spiritual (Edi Sedyawati, 2006).

Naskah terbanyak di Indonesia diduga berasal dari daerah sekitar Gunung Merapi-Merbabu. Tercatat sekitar 400 naskah kuno berhasil dikumpulkan dari sebuah padepokan ilmu.

Naskah La Galigo

Yang tergolong luar biasa, Indonesia memiliki sebuah naskah kuno dengan cerita terpanjang di dunia. La Galigo namanya, berasal dari daerah Bugis (Sulawesi Selatan). Naskah kuno berbahan kertas itu juga terbilang langka karena berbentuk seperti kaset (mempunyai dua gulungan). Banyak orang menafsirkan, naskah kuno itu merupakan ilham dari terciptanya kaset oleh bangsa Jepang. Di seluruh dunia, naskah berbentuk pita kaset hanya tinggal delapan buah. Tiga di antaranya terdapat di Indonesia, yakni satu di Perpustakaan Nasional dan dua di Sulawesi Selatan. Sisanya tersebar di beberapa negara.

Pada dasarnya naskah-naskah kuno Indonesia memiliki berbagai keunikan. Di pedalaman Sampit (Kalimantan Tengah), misalnya, pernah ditemukan sebuah Al Qur’an hasil tulisan tangan yang ukurannya hanya sebesar kotak korek api. Sementara Al Qur’an yang pernah ditemukan di Bali hingga kini masih dianggap naskah tertua di dunia.

Naskah terbanyak di Indonesia diperkirakan berupa naskah Melayu karena daerah pendukung bahasa Melayu relatif luas. Selain di Riau, Palembang, Jambi, dan sekitarnya, bahasa Melayu juga digunakan di Sulawesi dan Kalimantan.

Malaysia



Naskah kuno memiliki banyak manfaat. Selain sumber informasi berbagai jenis ilmu pengetahuan, naskah kuno merupakan kebanggaan suatu masyarakat atau daerah.

Ironisnya, manakala bangsa kita tidak memedulikan naskah-naskah kuno, tetangga kita Malaysia, justru pandai memanfaatkan peluang. Sejak bertahun-tahun lalu banyak warga Malaysia kerap berburu naskah-naskah Melayu dari beberapa wilayah Indonesia, antara lain dari Riau, Palembang, dan Jambi hingga ke Indonesia Timur.

Bahkan sejak 2002 lalu banyak budayawan Malaysia masuk keluar kampung berburu naskah Melayu. Mereka memang berambisi mendirikan Pusat Kajian Melayu terbesar di dunia. Naskah-naskah kuno tersebut mereka beli dari keluarga kerajaan/kraton atau warga masyarakat dengan harga tinggi.

Banyak pihak juga menyesalkan sikap para akademisi Malaysia yang sering melecehkan para akademisi Indonesia, misalnya terhadap hasil penelitian budayawan Tenas Effendi. Sebagian besar kerja kerasnya bertahun-tahun ternyata sudah “diangkuti” ke universitas terkemuka di Kuala Lumpur. Oleh mereka lalu dibuatkan situs tersendiri. Tragisnya, ketika kita mau menggunakannya, kita justru harus membayar kepada mereka (Kompas, 12/12/2007).

Jelas, dalam berbagai hal kita masih kalah gesit. Bukan hanya perbatasan, naskah kuno pun diincar Malaysia. Mari kita bersama-sama menyelamatkan aset berharga nenek moyang kita itu.

*******
Naskah Kuno Banyak, Kajiannya Sedikit

Ketika masih kecil Heinrich Schliemann, seorang Jerman, pernah diberi hadiah sebuah buku bacaan tentang kisah Perang Troya. Selama bertahun-tahun kisah dari masa Yunani purba itu terngiang-ngiang di telinganya. Menurut anggapannya, kisah Perang Troya bukanlah dongeng semata. Harus ada kenyataan di balik semua itu.

Mulailah dia mengumpulkan uang untuk membuktikan kebenaran pendapatnya. Terutama setelah dia menjadi bankir. Dibantu sejumlah keluarga dan temannya, dia kemudian berangkat ke Yunani, menuju tempat yang diperkirakan sebagai letak kota Troya.

Di sana, bukit demi bukit dia gali. Akhirnya dari sebuah timbunan tanah, muncul sedikit demi sedikit batu-batu kuno. Itulah benteng kota Troya. Schliemann menemukan letak kota itu pada 1870-an.

Dari kisah itu kiranya jelas bahwa naskah (manuskrip), dibantu tradisi lisan atau cerita rakyat, sebenarnya memegang peranan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Di Indonesia, peranan naskah yang demikian besar juga pernah disadari oleh ilmuwan-ilmuwan pionir, seperti Muhammad Yamin, yang pernah menjabat Menteri Pendidikan dan Pengajaran di era Presiden Soekarno.

Setelah membaca naskah Nagarakretagama karya Mpu Prapanca dari kerajaan Majapahit (abad ke-14), Yamin menyimpulkan bahwa sebelum terbentuknya NKRI, di wilayah Nusantara pernah ada dua negara kesatuan besar, yaitu Sriwijaya yang bercorak maritim dan Majapahit yang berciri agraris. Pendapat Yamin masih diikuti banyak kalangan hingga kini. Apalagi banyak pakar menganggap Nagarakretagama merupakan naskah nonfiksi terbaik sebagai sumber sejarah (Ayatrohaedi, 1990).

Tidak dimungkiri, karena keotentikannya dianggap bagus maka kisah sejarah berbagai daerah juga disusun berdasarkan naskah-naskah kuno. Naskah Carita Parahyangan merupakan sumber untuk penulisan sejarah Sunda. Babad Tanah Jawi, meskipun mengandung mitologi, dianggap babonnya kisah sejarah Jawa. Hikayat Banjar menjadi dasar penyusunan sejarah Banjar (Kalimantan Selatan). Sejarah Malayu untuk sejarah daerah Melayu (mencakup Riau dan sekitarnya). Begitu pula dengan Hikayat Aceh, Kronik Maluku, Babad Lombok, dan sebagainya yang berkenaan dengan sejarah masing-masing daerah.

Kritik



Kini di seluruh Indonesia terdapat belasan ribu hingga puluhan ribu naskah kuno. Namun disayangkan, kajian historiografi atas naskah-naskah kuno tersebut masih amat sedikit. Padahal. lewat hasil kajian filologi, naskah-naskah tersebut akan mampu merekonstruksi masa lampau masyarakat dalam berbagai aspeknya.

Banyak naskah dipercaya mengandung data sejarah yang akurat. Karena itulah digunakan sebagai acuan oleh para filolog dan arkeolog. Filologi dan arkeologi memang mempunyai jenis data utama yang berbeda, namun keduanya sering kali bertemu dalam suatu kepentingan.

Filologi umumnya memelajari teks atau sumber tertulis. Sementara arkeologi meneliti artefak atau sumber tak tertulis. Namun karena suatu teks selalu dituliskan pada benda tertentu, maka terjadilah pertemuan keduanya. Hal ini terlihat nyata pada epigrafi, yakni ilmu yang memelajari prasasti.

Naskah sebagai artefak kemudian mendapatkan perhatian serius. Hal ini diwujudkan dengan mengemukanya bidang perhatian khusus dalam ilmu pernaskahan yang disebut Kodikologi. Demikian pula variasi-variasi kecil dalam bentuk huruf diberi perhatian khusus dalam penggarapan naskah-naskah, untuk dilihat kemungkinannya bahwa variasi-variasi itu adalah fungsi dan perbedaan tradisi wilayah, masa, atau penguasa (Edi Sedyawati, 2006).

Dalam beberapa kasus, filologi memang amat berhubungan erat dengan arkeologi dan sejarah. Teks-teks kuno, terutama yang telah melalui garapan para ahli filologi, dapat membantu para peneliti arkeologi yang memelajari benda-benda budaya tinggalan dari masa yang sama atau berdekatan dengan teks-teks itu.
Pemanfaatan terbesar adalah dalam rangka identifikasi rangkaian relief cerita yang terdapat di candi-candi. Banyak teks Jawa Kuno yang telah dijadikan sandaran untuk upaya identifikasi tersebut.

Teks-teks sastra kuno pada dasarnya memberikan sumbangan berarti bagi pengetahuan ikonografi (seni arca kuno) berkenaan dengan penggambaran visual para tokoh. Sebaliknya, pengetahuan arkeologi khususnya ikonografi, dapat pula memberikan sumbangan pada ilmu pernaskahan. Terlebih dalam memberikan terjemahan yang tepat pada kata-kata yang sebenarnya merupakan semacam istilah teknis dalam konteks ikonografi.

Rekonstruksi



Sejumlah teks mampu memberikan gambaran mengenai peri kehidupan di zaman teks tersebut ditulis. Data semacam itu amat berguna untuk memberikan gambaran rekonstruksi yang lebih lengkap apabila dipadukan dengan temuan-temuan kepurbakalaan sezaman (Sedyawati, 2006).

Di Indonesia tradisi pernaskahan pernah hidup dalam berbagai suku bangsa. Masing-masing memiliki sistem aksara yang khas, termasuk media penulisannya. Dari ribuan naskah kuno yang sudah sampai ke tangan kita, masing-masing memiliki keunikan, yakni setiap daerah memiliki materi yang berlainan untuk menulis naskah.
Naskah-naskah dari Jawa umumnya ditulis di atas daun tal (lontar). Naskah Batak ditulis di atas kulit kayu yang kemudian diberi tali pengikat dan ditutup dengan kayu berukir. Bahan-bahan lain yang digunakan adalah kertas (daluwang), bambu, tulang binatang, kulit binatang, labu hutan, rotan, dan daun nipah.

Karena kurang perhatian masyarakat dan pemerintah, naskah (kuno) telah menjadi sumber sejarah yang terabaikan. Untuk itu kita semua harus menyelamatkan seluruh khasanah pernaskahan dari kepunahan atau kerusakan. Saolnya, kemungkinan besar isinya masih mempunyai relevansi dengan masa kini.

Penulis: Djulianto Susantio,
Arkeolog, di Jakarta
https://hurahura.wordpress.com/ 


Minim, Perhatian Pemerintah pada Penyelamatan Naskah Kuno


Suara Merdeka.com

Solo, CyberNews. Perhatian pemerintah pada upaya penyelamatan naskah-naskah kuno dinilai masih sangat minim. Padahal upaya itu sangat penting, karena menyangkut pemeliharaan peradaban kebudayaan bangsa.

Hal itu diungkapkan pakar digitalisasi dan restorasi naskah kuno, DR Thoralf Hanstein, dosen Universitas Leipzig, Jerman, yang membantu melakukan proses digitalisasi untuk menyelamatkan naskah kuno di Solo, Yogya dan Aceh.

"Kami selama bekerja sendiri, hanya dengan sedikit ada uluran tangan perhatian dari pemerintah. Kami embawa peralatan bahkan dana dari Jerman semata-mata karena kami ingin menyelamatkan warisan peradaban kebudayaan dunia yang ada di Indonesia," kata dia.

Di sela-sela Simposium Internasional Masyarakat  Pernaskahan Nasional (Manassa) di Solo, dia mengatakan pihaknya tergerak melakukan penyelamatan naskah kuno di Aceh ketika terjadi tsunami. "Ada ribuan naskah yang bisa kami selamatkan. Naskah-naskah itu kami restorasi dan dikonservasi, setelah bisa diselamatkan dilakukan katalogisasi dan dibuat naskah dalam bentuk digital serta dilakukan back-up agar jika naskah aslinya hilang, masih ada datanya," ujanrya.

Itu memang proses penyelamatan, dan pihaknya membawa peralatan scanner, kamera canggih, serta bahan-bahan merestorasi untuk memperbaiki naskah asli yang masih tersisa. Selesai di Aceh, alat itu kini dibawa ke Yogyakarta.

‘'Saat ini kami mencoba melakukan proses digitalisasi naskah kuno yang ada di Keraton Solo, Yogyakarta, dan Museum Sonobudoyo milik Keraton Yogyakarta. Ada ribuan naskah yang sudah kami proses,'' tandasnya.

Selain milik keraton, ada pula yang milik perorangan. Jika milik personal karena warisan, kadang harus dihadapkan pada kendala sakralisasi naskah itu, sehingga pemiliknya enggan didigitalisasi. "Kalau tidak mau, kami tidak bisa memaksa. Namun kami memberikan pengertian karena naskah itu barang berharga, jika tidak diselamatkan dan dirawat dengan baik, akan hancur dan bangsa ini sangat kehilangan," tandasnya.

Dia hanya berharap ke depan pemerintah lebih tanggap dan bisa lebih intensif memperhatikan upaya penyelamatan tersebut. Misalnya membentuk Pusat Pernaskahan Nusantara. "Adanya lembaga itu sangat penting, karena akan membantu upaya tersebut. Saat ini sudah ada Manassa (Masyarakat Pernaskahan Nusantara) namun dukungan untuk melakukan berbagai kegiatan masih sangat minim.

Dalam rekomendasi yang dihasilkan peserta symposium yang dihadiri ahli pernaskahan dari Kanada, Jerman, Dubai, Malaysia, Singapura, Belanda, dan juga para ahli dari berbagai universitas di Indonesia, ada imbauan senada.
( Joko Dwi Hastanto /CN12 )

Kamis, 23 Juni 2011

Yayasan Sastra Selamatkan 6.000 Naskah Kuno


SOLO, KOMPAS.com--Yayasan Sastra Surakarta berhasil menyelamatkan dan melestarikan sekitar 6.000 naskah kuno bertuliskan huruf Jawa.

"Ribuan naskah ini dibeli dari pedagang buku dan tidak ada satu pun yang berasal dari perpustakaan Indonesia," kata Komisaris Yayasan Sastra Surakarta Jhon Peterson, di Solo, Selasa.

Dia mengatakan, naskah-naskah kuno yang umurnya rata-rata di atas 50 tahun tersebut tidak ada satu pun yang ada stempelnya dari perpustkaan Museum Radya Pustaka, Pura Mangkunegaran maupun Keraton Kasunanan Surakarta.

Menurut dia, sebagian dari jumlah tersebut pernah dipelihara di luar negeri, namun saat ini lebih dari 50 persen telah disatukan di kantor Yayasan Sastra Surakarta.

Bahkan sejak 1998 secara berangsur-angsur, Yayasan Sastra membawa naskah dari luar itu dan langsung melakukan pendaftaran dan digitisasi agar naskah tersebut dapat dimanfaatkan para peminat baik dari dalam maupun luar negeri.

Proses digitasi tersebut merupakan sebagian dari tujuan Yayasan Sastra untuk menyebarluaskan naskah tulisan Jawa, katanya menambahkan, untuk menyelamatkan naskah kuno tersebut pihaknya sudah mengeluarkan dana Rp1 miliar lebih.

"Yayasan Sastra menyadari sepenuhnya bahwa naskah kuno merupakan kekayaan negara dan bukan barang komersial, bahkan tujuan utama yayasan ini adalah penyelamatan. Maka sekitar 3000-an naskah di luar negeri itu sedang disiapkan untuk disatukan di perpustakaan," katanya.
Yayasan Sastra sebagai institusi yang selama 10 tahun memfokuskan pada penyelamatan dan penyebarluasan  naskah tulisan Jawa, siap bergabung dengan semua pihak untuk memberikan kontribusi yang terbaik bagi Pemerintah Kota Surakarta.

Kontribusi tersebut dapat dengan cara menghibahkan perpustakaan, pengetahuan tentang proses digitisasi dan pelestarian naskah pada umumnya, serta sumberdaya manusia yang ada di yayasan tersebut.

Wali Kota Surakarta Ir Joko Widodo di tempat terpisah menyatakan, pihaknya siap memenuhi keinginan dari Yayasan Sastra Surakarta, terkait masalah pengembalian naskah-naskah kuno itu.
Sumber :

Naskah Kuno Museum Radya Pustaka Dijualbelikan

Naskah Babad Arung Binang, koleksi pribadi.
Naskah Babad Arung Binang, koleksi pribadi.

Naskah Babad Arung Binang, koleksi pribadi.

Naskah Babad Arung Binang, koleksi pribadi.

Naskah Babad Arung Binang, koleksi pribadi.

Naskah Babad Arung Binang, koleksi pribadi.
SOLO, KOMPAS.com--Puluhan naskah kuno koleksi museum tertua di Indoesia Radya Pustaka Solo diduga telah dijualbelikan.

Kepala Komite Museum Radya Pustaka Solo, Winarso Kalinggo kepada wartawan, di Solo, Jumat mengatakan, dugaan tersebut terungkap saat pihak museum melakukan pengecekan dokumen peminjaman ditemukan 29 naskah kuno dari berbagai judul telah keluar dari perpustakaan museum sejak 27 September 1977.

"Naskah-naskah kuno tersebut dalam pencatatan dokumen peminjaman  pernah ditawarkan kepada Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI) Jakrta untuk dijual oleh KRT Hardjonagoro atau Go Tik Swan (almarhum)," katanya.

Dalam dokumen peminjaman tersebut juga diketahui 29 naskah kuno itu dipinjam oleh KRT Hardjonagoro yang pernah menjabat sebagai Ketua Presidium Yayasan Radya Pustaka pengelola Museum Radya Pustaka Solo  dan saat ini telah meninggal dunia.

Menurut Kalinggo, naskah kuno yang pernah ditawarkan ke Fakultas Sastra UI tersebut antara lain naskah dengan judul Sri Radya Laksono, naskah kuno Jawa carikan, naskah kuno Bahasa Belanda, naskah kuno Bahasa Jawa dengan huruf cetak serta naskah kuno Bahasa Indonesia dan reng-rengan kamus Bahasa Jawa.
Sebanyak 29 naskah kuno yang pernah ditawarkan kepada Fakultas Satra UI, sampai sekarang juga belum diketahui keberadaannya.

"Naskah itu ditawarkan kepada Fakultas Sastra UI, jadi dibeli atau tidak kami juga tidak mengerti karena dalam catatannya juga tidak ada, tetapi yang jelas naskah itu sekarang tidak ada di museum ini", katanya.

Selain 29 naskah kuno, pihak museum juga menemukan catatan sebanyak 20 naskah kuno juga telah dipinjam oleh Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta (saat ini telah berganti nama Institut Seni Indonesia Surakarta) sejak 1991 dan hingga saat ini belum dikembalikan.

"Kami sudah mengecek ke ISI dan akan mengambil langkah supaya naskah-naskah kuno itu bisa dikembalikan lagi ke museum. Saat ini kami juga masih mencari data naskah kuno yang juga hilang dari dokumen yang ada," katanya.

Sebelumnya, pihak museum juga menemukan sebanyak 20 naskah kuno hilang dari museum yang diketahui saat melakukan pembersihan buku-buku kuno. Tetapi dari 20 naskah kuno yang hilang tersebut, ada tiga jilid Al Quran bertuliskan huruf Jawa diketahui dipinjam oleh Museum Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang. Sementara dua diantaranya yakni Centhini dan Primbon telah diketemukan.

Sementara itu, menurut Ketua Komisi IV DPRD Solo, Satryo Hadinagoro saat melakukan kunjungan kerja di museum tersebut menegaskan, hilangnya naskah-naskah kuno tersebut harus segera ditindaklanjuti dengan melaporkan kepada polisi.
"Yang terpenting sekarang bagaimana caranya naskah-naskah kuno tersebut bisa kembali ke museum. Kita kan tidak mau, Museum Radya Pustaka, yang merupakan museum tertua di Indoesia, menjadi museum replika karena barang-barangnya tiruan semua," katanya. 
Sumber :

Kini, Naskah Kuno Sudah di Malaysia!

JAMBI, KOMPAS.com--Sejumlah benda kuno seperti koin dan prasasti kuno serta naskah tua dari Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, diduga telah lebih dulu dibawa ke Malaysia sejak sebulan lalu untuk mengisi Museum Kerinci di Kuala Lumpur yang akan diresmikan Minggu (17/4).

Selain benda- benda kuno, Pemerintah Kabupaten Kerinci juga akan mengisi museum tersebut dengan alat-alat pertanian, pakaian adat, alat musik, serta foto-foto potensi wisata dan budaya Kerinci.

Filolog dari Universitas Jambi, Meizar Karim, Kamis (14/4), mengatakan, sejumlah naskah kuno Melayu telah didokumentasikan dalam bentuk mikrofilm dan mikrodisk sebagai koleksi Perpustakaan Melayu di Kuala Lumpur. Naskah tersebut, antara lain Cerita Negeri Jambi, Cerita Sebab Jatoh Kuasa Sultan Jambi, Hal Di Dalam Negeri Jambi, serta Hikayat Negeri Jambi.

”Tidak hanya di Malaysia, sejumlah dokumen asli Melayu Jambi tersimpan di Belanda dan Jerman. Keberadaan benda-benda tersebut di luar negeri menyulitkan peneliti lokal karena mereka harus ke luar negeri untuk mempelajari budaya Melayu Jambi,” ujarnya.

Ketua Umum Dewan Kesenian Jambi Ashar Zahari mengatakan, pihaknya mengingatkan Pemerintah Provinsi Jambi untuk berhati-hati atas setiap upaya yang memungkinkan terjadinya pencurian benda-benda pusaka milik Jambi ke luar negeri. Ia mencontohkan, saat ini pengusaha asal Malaysia juga tengah mengajukan diri kepada Pemerintah Provinsi Jambi untuk melaksanakan pengerukan di sepanjang Sungai Batanghari, Jambi.

Padahal, menurut Ashar, sepanjang sungai ini memiliki begitu banyak peninggalan purbakala sejak abad VIII hingga XIV, antara lain berupa gerabah, keramik, dan emas. Pengerukan sungai dapat mengakibatkan banyak benda purbakala yang ikut diambil dan rusak akibat alat berat.

Pusat informasi wisata

Secara terpisah, Gubernur Jambi Hasan Basri Agus menyatakan, Pemkab Kerinci bukan membangun museum, tapi hanya membangun pusat informasi wisata dan budaya. Keberadaan pusat informasi di Kuala Lumpur tersebut diharapkan akan dapat menarik lebih banyak wisatawan asal Malaysia ke Kerinci.

”Di pusat informasi nantinya akan dipamerkan foto-foto sejumlah obyek wisata dan budaya khas Kerinci,” ujarnya.

Mengenai dugaan adanya sejumlah benda purbakala dan bersejarah akan dibawa ke Malaysia, Hasan menyatakan hal itu tidak boleh terjadi. ”Jangan sampai ada benda kuno dan pusaka yang dibawa ke luar. Itu ada sanksinya,” tutur Hasan.
Sejarawan Anhar Gonggong mengatakan, pengiriman benda peninggalan budaya dan sejarah Kerinci ke Malaysia menunjukkan sikap pemerintah yang abai terhadap kekayaan budaya.

”Meskipun hanya membuat replikanya untuk diberikan pada negara lain, sama saja dengan menyerahkan identitas bangsa ini pada negara lain,” kata Anhar Gonggong.
Sumber :
Kompas Cetak

Sedang Membaca

free counters

Iklan Anda